Karangan Cerita (1)
Peter, sang kurcaci penggali sumur mempunyai sebatang pohon mangga ajaib di tempat tinggalnya di dalam rimba Morin. Buahnya berwarna-warni sesuai dengan warna cabangnya. Pohon mangga ini adalah pohon ajaib di kelompok beberapa kurcaci di rimba Morin. Pohonnya bercabang lima seperti jari tangan
dengan warna yang berlainan. Tiap-tiap warna memiliki khasiatnya sendiri. Buah merah cabang ibu jari, bermanfaat mengobati penyakit asma. Buah hijau cabang telunjuk, bermanfaat mengobati sakit perut. Buah kuning cabang jari tengah bermanfaat mengobati penyakit mata.
Buah putih cabang jari manis bermanfaat percantik muka. Seperti bentuk jari manis yang anggun, mangga putih seringkali dipesan kurcaci wanita untuk percantik muka serta badan, supaya masih fresh serta penuh pesona. Nah, buah biru cabang kelingking, kecil serta cukup ringkih. Buah biru bermanfaat mengobati penyakit lupa. Semua kurcaci yang pelupa di rimba Morin, langsung sembuh ingatannya saat mengonsumsi mangga biru. Intinya nyos deh khasiatnya.
Satu hari, Peter, pergi menggali sumur di desa samping rimba Morin. Tidak diduga matanya terserang pecahan batu galian. Wah, bahaya jika tidak cepat diatasi. Peter lantas ambil mangga kuning dari dalam tasnya, lalu dimakannya. Ajaib, saat itu ikut sakit mata Peter kembali sembuh. Saat hari mulai sore, Peter pulang ke rimba. Di dalam perjalanan Peter berjumpa seseorang Ibu tua yang sakit asma. Peter jatuh kasihan, lalu dia ambil mangga merah dari tasnya serta dikasihkan pada Ibu tua itu.
Sesudah ibu tua mengkonsumsinya, saat itu ikut sembuhlah penyakit asmanya. Ibu tua lantas mengatakan terima kasih pada Peter. Wis meneruskan perjalanan pulangnya. Kembali Peter berjumpa dengan Kakak beradik yang tengah duduk diatas batu di tepi sungai.
“Aduh, sakit perutku, kak!” kata anak lelaki sekalian meringis kesakitan memegang perutnya.
“Sakit sekali ya, dek?” bertanya Kakak perempuannya yang jelek rupa.
“Iya kak, saya telah tidak tahan lagi,” kata anak lelaki meredam sakit.
Peter yang dengar pembicaraan itu menanyakan, “Ada yang dapat saya membantu?”
“Oh, iya pak kurcaci, Adikku perlu pertolongan. Dia sakit perut, mungkin kebanyakan makan jambu air,” sang Kakak memberi tahu Peter.
Peter ambil mangga hijau dari dalam tasnya serta dikasihkan ke anak lelaki itu.
“Nah, makan ini!” kata Peter sekalian menyerahkan mangga itu.
Peter memandang Kakak wanita yang jelek rupa lalu jadi iba. Peter lantas ambil mangga putih serta dikasihkan pada sang Kakak.
“Saya tidak sakit pak kurcaci,” kata sang Kakak.
“Kamu ikut bisa mengkonsumsinya, kelak kamu akan tahu khasiatnya!” jawab Peter.
Pada akhirnya ke-2 Kakak beradik itu mengonsumsi buah mangga dari pohon ajaib itu.
“Haa? Saya bisa saja cantik? Kulitku jadi putih serta halus!” sorak sang Kakak wanita jelek rupa kagum dengan pergantian yang barusan berlangsung.
Pada akhirnya ke-2 Kakak beradik itu mengonsumsi buah mangga dari pohon ajaib itu.
“Haa? Saya bisa saja cantik? Kulitku jadi putih serta halus!” sorak sang Kakak wanita jelek rupa kagum dengan pergantian yang barusan berlangsung.
“Aku juga pulih, kak! Perutku telah tidak mules lagi,” kata si anak lelaki.
“Wah, terima kasih ya pak kurcaci. Kami begitu mujur berjumpa kamu ini hari. Terima kasih, terima kasih, terima kasih,” kedua-duanya mengemukakan perasaan terima kasihnya berkali-kali. Peter cuma tersenyum dengar perkataan terima kasih itu.
Mendekati tempat tinggalnya di rimba, Peter berjumpa dengan seseorang Kakek. Keliatannya sang Kakek tengah kebingungan.
Peter mendekati si Kakek serta menanyakan, “Ada apakah, kek? Ada yang dapat saya membantu?” bertanya Peter lembut.
Peter mendekati si Kakek serta menanyakan, “Ada apakah, kek? Ada yang dapat saya membantu?” bertanya Peter lembut.
“Iya, saya perlu pertolongan. Saya ingin pulang ke rumah saya di tepi rimba tetapi saya lupa jalan pulangnya. Saat ini saya tersesat,” tutur sang Kakek yang pelupa.
“Oh janganlah cemas, kek. Kakek makan saja mangga biru ini!” kata Peter sekalian menyerahkan mangga paling akhir dari dalam tasnya. Sesaat lalu tampaklah reaksinya. Kakek mulai sadar serta sudah tahu arah ke tempat tinggalnya.
“Terima kasih, saat ini saya jadi tahu jalan pulang ke rumah!” kata Kakek suka.
“Terima kasih, saat ini saya jadi tahu jalan pulang ke rumah!” kata Kakek suka.
“Oke, berhati-hati ya, kek!” jawab Peter sopan.
Nah, lengkaplah telah pekerjaan Peter hari itu, mengobati lima penyakit dengan buah mangga ajaib. Sehari-hari, Wis si kurcaci serta mangga ajaibnya selalu mengobati siapapun yang memerlukan pertolongan.
Karangan Cerita (2)
Andini ialah seseorang gadis desa yang miskin. Mukanya cukup suram, karena dia menanggung derita penyakit kulit di mukanya. Beberapa orang desa seringkali takut bila berpapasan denganya. Andini pada akhirnya tetap memakai cadar.
Dalam satu malam, Andini punya mimpi berjumpa dengan pangeran Rangga. Putra Raja itu populer dengan keramahannya serta ketampanannya. Andini ingin berteman dengannya. Dia juga semakin seringkali mengimpikan Pangeran Rangga.
“Sudahlah, Andini! Buang jauh-jauh mimpimu itu!“ kata Ibu Andini, saat lihat anaknya termangu di muka jendela kamar. “Ibu tidak punya maksud menyakiti hatimu. Kamu bisa suka pada siapapun. Tetapi Ibu tidak mau pada akhirnya kamu sedih,“ papar Ibu Andini lembut.
Sebetulnya Andini ikut sadar. Mimpinya sangat tinggi. Beberapa orang desa saja takut memandangnya, ditambah lagi pangeran Rangga. Fikir Andini.
Dalam satu malam, Andini lihat panorama alam yang begitu indah. Bulan cemerlang jelas di langit. Cahayanya lembut keemasan. Di sekelilingnya, terlihat bintang-bintang yang berkelap-kelip. Malam itu demikian cerah.
Dalam satu malam, Andini lihat panorama alam yang begitu indah. Bulan cemerlang jelas di langit. Cahayanya lembut keemasan. Di sekelilingnya, terlihat bintang-bintang yang berkelap-kelip. Malam itu demikian cerah.
“Sungguh cantik!“ gumam Andini. Matanya kagum melihat mengarah bulan.
Tidak diduga saja Andini ingat pada suatu dongeng mengenai Dewi Bulan. Dewi itu tinggal di bulan. Dia begitu cantik serta baik hati. Dia seringkali turun ke bumi untuk membantu beberapa orang yang kesulitan. Di desa Andini, tiap-tiap ibu yang ingin memiliki anak wanita, tetap mengharap anaknya seperti Dewi Bulan.
Tidak diduga saja Andini ingat pada suatu dongeng mengenai Dewi Bulan. Dewi itu tinggal di bulan. Dia begitu cantik serta baik hati. Dia seringkali turun ke bumi untuk membantu beberapa orang yang kesulitan. Di desa Andini, tiap-tiap ibu yang ingin memiliki anak wanita, tetap mengharap anaknya seperti Dewi Bulan.
Dahulu, saat Andini masih tetap kecil, mukanya juga secantik Dewi Bulan, menurut Ibu Andini.
“Aku ingin meminta pada Dewi Bulan supaya saya dapat canti lagi seperti dahulu. Tapi…, ah.., tidak mungkin! Itu tentu cuma dongeng!” Andini selekasnya menghalau harapannya. Sesudah senang memandang bulan, Andini tutup rapat jendela kamarnya. Dia bergerak untuk tidur dengan hati susah.
“Aku ingin meminta pada Dewi Bulan supaya saya dapat canti lagi seperti dahulu. Tapi…, ah.., tidak mungkin! Itu tentu cuma dongeng!” Andini selekasnya menghalau harapannya. Sesudah senang memandang bulan, Andini tutup rapat jendela kamarnya. Dia bergerak untuk tidur dengan hati susah.
Andini ialah gadis yang baik. Hatinya lembut serta senang membantu orang yang lain. Satu sore, Andini bersiap-siap pergi mengantar makanan untuk seseorang nenek yang tengah sakit. Walau rumah nenek itu cukuplah jauh, Andini ikhlas menjenguknya.
Sepulang dari rumah si nenek, Andini kemalaman di dalam perjalanan. Dia bingung sebab kondisi jalan demikian gelap. Tidak tahu dari tempat mana aslinya, tidak diduga, muncul beberapa ratus kunang-kunang. Sinar dari badan mereka demikian jelas.
“Terima kasih kunang-kunang. Kalian sudah menerangi jalanku!“ kata Andini lega.
Dia berjalan, serta selalu berjalan. Akan tetapi, walau cukup sudah jauh berjalan. Andini tidak ikut sampai di tempat tinggalnya. Andini tidak ikut mememukan tempat tinggalnya.
Dia berjalan, serta selalu berjalan. Akan tetapi, walau cukup sudah jauh berjalan. Andini tidak ikut sampai di tempat tinggalnya. Andini tidak ikut mememukan tempat tinggalnya.
“Kusara saya telah tersesat!“ gumamnya cemas. Nyatanya beberapa kunang-kunang sudah mengarahkannya masuk ke rimba.
“Jangan takut, Andini! Kami membawamu ke sini , supaya wajahmu dapat sembuh,“ tutur seekor kunang-kunang.
“Kau?Kau dapat bicara?“ Andini memandang heran seekor kunang-kunang yang terbesar.
“Kami ialah utusan Dewi Bulan,“ jelas kunang-kunang itu.
Andini pada akhirnya datang di pinggir danau. Beberapa kunang-kunang beterbangan ke arah langit. Demikian kunang-kunang menghilang, perlahan awan hitam di langit mengungkap. Keluarlah cahaya bulan purnama yang jelas benderang.
“Indah sekali!“ Andini kagum. Kondisi di seputar danau jadi jelas.
Andini memerhatikan bayang-bayang bulan diatas air danau. Bayangan purnama itu demikian bundar prima. Selang beberapa saat, pas dari bayangan bulan itu nampaklah figur wanita berparas cantik.
“Si…siapa kau?“ bertanya Andini kaget.
“Akulah Dewi Bulan. Saya hadir untuk mengobati wajahmu,“ papar Dewi Bulan lembut. “Selama ini kau sudah mendapatkan ujian. Sebab kebaikan hatimu, kau memiliki hak terima air kecantikan dariku. Usaplah wajahmu dengan air ini!“ lanjut Dewi Bulan sekalian memberi sebotol air.
Dengan tangan gemetar Andini menerimanya. Perlahan Dewi Bulan masuk kembali ke bayang-bayang bulan di permukaan air danau. Lalu dia menghilang.
Andini selekasnya membersihkan mukanya dengan air pemberian Dewi Bulan. Malam itu, Andini tertidur di pinggir danau.
“Jangan takut, Andini! Kami membawamu ke sini , supaya wajahmu dapat sembuh,“ tutur seekor kunang-kunang.
“Kau?Kau dapat bicara?“ Andini memandang heran seekor kunang-kunang yang terbesar.
“Kami ialah utusan Dewi Bulan,“ jelas kunang-kunang itu.
Andini pada akhirnya datang di pinggir danau. Beberapa kunang-kunang beterbangan ke arah langit. Demikian kunang-kunang menghilang, perlahan awan hitam di langit mengungkap. Keluarlah cahaya bulan purnama yang jelas benderang.
“Indah sekali!“ Andini kagum. Kondisi di seputar danau jadi jelas.
Andini memerhatikan bayang-bayang bulan diatas air danau. Bayangan purnama itu demikian bundar prima. Selang beberapa saat, pas dari bayangan bulan itu nampaklah figur wanita berparas cantik.
“Si…siapa kau?“ bertanya Andini kaget.
“Akulah Dewi Bulan. Saya hadir untuk mengobati wajahmu,“ papar Dewi Bulan lembut. “Selama ini kau sudah mendapatkan ujian. Sebab kebaikan hatimu, kau memiliki hak terima air kecantikan dariku. Usaplah wajahmu dengan air ini!“ lanjut Dewi Bulan sekalian memberi sebotol air.
Dengan tangan gemetar Andini menerimanya. Perlahan Dewi Bulan masuk kembali ke bayang-bayang bulan di permukaan air danau. Lalu dia menghilang.
Andini selekasnya membersihkan mukanya dengan air pemberian Dewi Bulan. Malam itu, Andini tertidur di pinggir danau.
Namun, benar-benar ajaib! Keesokannya. Dia sudah ada di kamarnya sendiri lagi. Saat bercermin, dia begitu senang lihat kilit mukanya sudah halus lembut kembali seperti dahulu. Dia sudah canti kembali. Ibunya heran serta senang.
“Bu, Dewi Bulan nyatanya betul-betul ada!“ narasi Andini.
“Bu, Dewi Bulan nyatanya betul-betul ada!“ narasi Andini.
Secara cepat kecantikan wajah Andini menyebar kemana saja. Bahkan juga sampai ikut ke telinga Pangeran Rngga. Sebab ingin tahu, Pangeran Rangga juga mecari Andini. Kedua-duanya pada akhirnya dapat berjumpa. Andini begitu gembisa dapat berteman dengan pangeran idola hatinya.
Karangan Cerita (3)
Liburan sekolah tahun tahun lalu, Aku, bersama ayah, ibu dan adik saya pergi ke Kota Bandung. Kami mengunjungi rumah paman yang bertempat tinggal di sana sekaligus liburan bersama suadara sepupuku, Shinta dan Jojo.
Perjalanan dari kotaku memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan menggunakan pesawat. Setelah sampai di sana, sepupuku mengajak aku dan adikku untuk berkeliling kota. Kami mengunjungi Banyak sekali tempat – tempat unik dan menarik yang merupakan ciri khas Kota Bandung. Tempat pertama yang kami datangi adalah Trans Studio Bandung. Tempat ini adalah wahana permainan indoor terbesar yang ada di Asia. Di sana kami bermain dengan riang dan gembira mencoba menaiki beberapa wahana seru, seperti roller coster, dan lain – lain.
Tidak terasa dua jam sudah kami menghabiskan waktu di dalam trans studio Bandung. Setelah puas, kami pun mencari tempat untuk makan siang dan kemudian begegas pulang karena hari sudah sore.
Karangan Cerita (4)
Pada hari senin yang lalu aku berangkat sekolah tepat pukul 07.45. Setelah sampai aku pun upacara, setelah upacara aku belajar PKN, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya.
Setelah itu tepat pelajaran Matematika akupun tak terlalu memperhatikan bapak guru menjelaskan pelajaran matematika, akupun tak merasa kalau tidak memperhatikan guru menjelaskan aku tidak akan paham.
Pada hari kamis guru matematika mengadakan ulangan dadakan, akupun merasa gugup karena waktu pelajaran matematika aku tidak pernah memperhatikan. Setelah menjalani ulangan akupun mendapat nilai yang jeblok. Setelah itu aku akan mendengarkan guru ketika menerangkan pelajaran. Aku akan belajar dari kesalahanku, supaya mendapat nilai yang tinggi.
Karangan Cerita (5)
Pada suatu hari, saya melihat seorang dokter. Dia memeriksa seorang pasiennya. Waktu itu saya masih duduk di kelas VII SMP.
Cita-cita saya ingin menjadi dokter. Saya ingin mengobati orang-orang yang sakit. Dan saya juga ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Waktu itu saya mengkhayal menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tua saya.
Pada suatu malam saya menceritakan semua keinginan saya kepada kedua orang tua saya. Tetapi ternyata kedua orang tua saya menjelaskan pada saya bahwa mereka tidak punya uang untuk membiayai kuliah saya.
Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar diberi jalan yang terbaik. Lalu saya berpikir, masih banyak pekerjaan lain selain menjadi seorang dokter yang juga bermanfaat.
Karangan Cerita (6)
Pada suatu hari ada seorang anak yang pergi ke pasar untuk membeli baju.Setelah lama memilih baju, ia memilih pilihan pada baju berwarna kuning dan coklat. Tapi pada saat ingin membayar baju tersebut, uangnya ketinggalan di rumah.
Setelah itu ia bergegas kembali ke rumah untuk mengambil uang dan kembali lagi ke pasar untuk membayar baju yang ingin ia beli. Akhirnya anak tadi mendapat baju yang ia inginkan dan ia berjanji pada dirinya sendiri kalau mau pergi ke pasar jangan pernah lagi ketinggalan uang.
Karangan Cerita (7)
Sejak duduk dibangku SD aku belum tahu kelak aku ingin jadi apa. Banyak cita-cita yang terlintas di fikiran ku, tapi tak ada satupun yang menarik perhatian ku. Setelah masuk ke bangku SMP, aku berfikir ingin menjadi seorang dokter. Entahlah bagaimana dan berawal dari mana sehingga aku ingin menjadi dokter.
Tiap aku ke rumah sakit atau puskesmas aku selalu memperhatikan dokter yang memeriksaku. Subhanallah, betapa mulianya seorang dokter yang berusaha menyembuhkan pasiennya dan betapa bangganya ke dua ortunya yang melihat anaknya sekarang telah menjadi dokter.
Terlintas di benakku apakah suatu saat nanti ku bisa duduk di kursi itu untuk menggantikannya, dan bisakah aku menggunakan jas putih berlambangkan kesehatan itu di hari kelak. Y’allah ku ingin menjadi seorang dokter, ku ingin bahagiakan kedua orang tua ku, ku ingin kelak menggunakan seragam putih itu.
Karangan Cerita (8)
Di sebuah desa terdapat tiga remaja yang bersahabat sejak kecil. Rumah mereka saling berdekatan sehingga sering keluar bersama. Saat di TK mereka berangkat ke sekolah bersama-sama. Bila salah satu belum siap, yang lainnya akan sabar menunggu. Setelah mereka siap, baru berangkat bersama-sama.
Ketiga remaja itu bernama Ali, Dedy, dan Eka. Tetapi Eka lebih tua satu tahun dari Ady dan Dedy. Saat Eka kelas 1 SD, Ady dan Dedy masih di TK. Walaupun berbeda kelas mereka tetap menjaga persahabatan diantara mereka. Setelah pulang sekolahpun mereka tetap bermain besama teman-teman yang lain. Tiga sahabat ini sanat suka bermain sepak bola setiap hari, mereka kumpul di lapangan tepat pukul 03.00 sore.
Bersama teman - teman yang lain mereka mengumpulkan uang untuk membeli bola plastik yang harganya Rp 3.500. Setelah mereka mendapatkan bola, Eka, Adi, dan Dedy mulai bermain dengan semangat hingga menjelang magrib. Mereka pulang ke rumah masing - masing untuk mandi dan mempersiapkanuntuk berangkat ke musholla dekat rumah mereka. Saat azan tiba, mereka berangkat bersama – sama hingga pulangnyapun mereka juga bersama - sama. Sebelum pulang mereka menyempatkan untuk ngobrol sebentar, walaupun mereka masih mempunyai PR.
Hampir setiap hari mereka berkumpul bersama, apalagi saat hari libur. Mereka bisa bermain sampai lupa waktu dan larut malam. Sampai - sampai Dedy dimarahi ibunya. Dedy kena marah gara - gara pulang terlalu malam. Hari demi hari mereka lalui bersama dengan penuh canda dan tawa.
Ketika Eka naik ke SMP, Adi dan Dedy berada di kelas 6 SD. Mulai sejak itu mereka bertiga jarang bermain dan keluar bersama. Eka jadi jarang keluar rumah karena ia mulai serius dengan pelajaranya, tetapi Adi dan Dedy menyadari bagaimana kesibukan yang dialami Eka. Di kelas 6 SD ini, Adi dan Dedy masih bisa bermain bersama, tetapi mereka merasa kurang puas karena tidak hadirnya Eka.
Saat Adi dan Dedy naik ke SMP, mereka pisah sekolah. Sehingga mereka tidak bisa kumpul bersama lagi. Ketiga remaja ini memilikisekolah yang berbeda, dan mereka sudah tidak bisa bermain bersama lagi karena pulangnya sore hari. Mereka sudah lelah searian sekolah, jadi lebih memilih istirahat di rumah. Tiga sahabat ini menekuni pelajaranya masing – masing. Dengan belajar giat dan rajin mereka berharap mendapat nilai yang terbaik. Jadi mereka tidak memiliki waktu luang sedikitpun untuk bermain bersama. mereka lebih memlih bermain dengan teman – teman di sekolahnya.
Karangan Cerita (9)
Karangan Cerita (7)
Sejak duduk dibangku SD aku belum tahu kelak aku ingin jadi apa. Banyak cita-cita yang terlintas di fikiran ku, tapi tak ada satupun yang menarik perhatian ku. Setelah masuk ke bangku SMP, aku berfikir ingin menjadi seorang dokter. Entahlah bagaimana dan berawal dari mana sehingga aku ingin menjadi dokter.
Tiap aku ke rumah sakit atau puskesmas aku selalu memperhatikan dokter yang memeriksaku. Subhanallah, betapa mulianya seorang dokter yang berusaha menyembuhkan pasiennya dan betapa bangganya ke dua ortunya yang melihat anaknya sekarang telah menjadi dokter.
Terlintas di benakku apakah suatu saat nanti ku bisa duduk di kursi itu untuk menggantikannya, dan bisakah aku menggunakan jas putih berlambangkan kesehatan itu di hari kelak. Y’allah ku ingin menjadi seorang dokter, ku ingin bahagiakan kedua orang tua ku, ku ingin kelak menggunakan seragam putih itu.
Karangan Cerita (8)
Di sebuah desa terdapat tiga remaja yang bersahabat sejak kecil. Rumah mereka saling berdekatan sehingga sering keluar bersama. Saat di TK mereka berangkat ke sekolah bersama-sama. Bila salah satu belum siap, yang lainnya akan sabar menunggu. Setelah mereka siap, baru berangkat bersama-sama.
Ketiga remaja itu bernama Ali, Dedy, dan Eka. Tetapi Eka lebih tua satu tahun dari Ady dan Dedy. Saat Eka kelas 1 SD, Ady dan Dedy masih di TK. Walaupun berbeda kelas mereka tetap menjaga persahabatan diantara mereka. Setelah pulang sekolahpun mereka tetap bermain besama teman-teman yang lain. Tiga sahabat ini sanat suka bermain sepak bola setiap hari, mereka kumpul di lapangan tepat pukul 03.00 sore.
Bersama teman - teman yang lain mereka mengumpulkan uang untuk membeli bola plastik yang harganya Rp 3.500. Setelah mereka mendapatkan bola, Eka, Adi, dan Dedy mulai bermain dengan semangat hingga menjelang magrib. Mereka pulang ke rumah masing - masing untuk mandi dan mempersiapkanuntuk berangkat ke musholla dekat rumah mereka. Saat azan tiba, mereka berangkat bersama – sama hingga pulangnyapun mereka juga bersama - sama. Sebelum pulang mereka menyempatkan untuk ngobrol sebentar, walaupun mereka masih mempunyai PR.
Hampir setiap hari mereka berkumpul bersama, apalagi saat hari libur. Mereka bisa bermain sampai lupa waktu dan larut malam. Sampai - sampai Dedy dimarahi ibunya. Dedy kena marah gara - gara pulang terlalu malam. Hari demi hari mereka lalui bersama dengan penuh canda dan tawa.
Ketika Eka naik ke SMP, Adi dan Dedy berada di kelas 6 SD. Mulai sejak itu mereka bertiga jarang bermain dan keluar bersama. Eka jadi jarang keluar rumah karena ia mulai serius dengan pelajaranya, tetapi Adi dan Dedy menyadari bagaimana kesibukan yang dialami Eka. Di kelas 6 SD ini, Adi dan Dedy masih bisa bermain bersama, tetapi mereka merasa kurang puas karena tidak hadirnya Eka.
Saat Adi dan Dedy naik ke SMP, mereka pisah sekolah. Sehingga mereka tidak bisa kumpul bersama lagi. Ketiga remaja ini memilikisekolah yang berbeda, dan mereka sudah tidak bisa bermain bersama lagi karena pulangnya sore hari. Mereka sudah lelah searian sekolah, jadi lebih memilih istirahat di rumah. Tiga sahabat ini menekuni pelajaranya masing – masing. Dengan belajar giat dan rajin mereka berharap mendapat nilai yang terbaik. Jadi mereka tidak memiliki waktu luang sedikitpun untuk bermain bersama. mereka lebih memlih bermain dengan teman – teman di sekolahnya.
Karangan Cerita (9)
Di suatu perkampungan, hiduplah pemuda miskin dan betang kara. Ia tidak memiliki harta benda kecuali gubuk yang sudah rapuh peninggalan orang tuanya. Untuk menghidupi dirinya, pemuda tersebut selalu mencari bakar di hutan lalu dijualnya atau ditukarnya dengan kebutuhan pokok lainnya. meski hidup serba kekurangan, namun pemuda tersebut sangat baik hati dan penyabar.
Ketika suatu hari pemuda tersenut tengah mencari kayu bakar, terdengar di balik semak-semak suara raungan singa yang sedang kesakitan. Dengan rasa cemas, di hampirinya singa tersebut yang sedang merintih karena sebuah serpihan kayu menusuk bagian punggung singa. Dengan rasa takut si pemuda yang merasa prihatin dan iba kemudian menghampiri sembari mencoba menenangkan singa.
“Tenanglah wahai raja hutan, aku tidak akan menyakitimu atau memburumu. Aku akan membantu melepaskan duri di pungungmu”. Mendengar ucapan pemuda tersebut, singa itu kemudian terdiam seolah mempersilakan pemuda untuk menolongnya. Tak lama kemudian duri di punggu singa berhasil di cabut. Pemuda tersebut kemudian berlari menghindar karena takut dimangsa.
Ketika hendak kembali ke tempat mencari kayu bakar, ia tidak sengaja menabrak kereta kencana milik raja yang sedang lewat sehingga kereta tersebut terbalik. Meski telah bersimpuh dan meminta maaf, raja kemudian meminta pengawalnya untuk menangkap dan memenjarakan si pemuda malang tersebut. setelah beberapa hari di penjara pemuda tersebut akhirnya di jatuhkan hukuman mati.
Pada malah hari, dimasukkan lah pemuda ke dalam ruangan gelap yang berisi binatang buas. Dengan perasaan sedih dan pasrah, ia merelakan dirinya menjadi santapan binatang buas. Akan tetapi alangkah terkejutnya pemuda tersebut ketika bintang yang ada di dalam ruangan tersebut tidak menyentuhnya sama sekali. Setelah beranjak siang, baru ia mulai bisa melihat, binatang apa yang ada dalam ruangan.
Binatang buas tersebut adalah singa yang ia selamatkan beberapa hari yang lalu. Singa tersebut ternyata peliharaan kesayangan milik raja. Pemuda tersebut lantas bertanya “kenapa kau tidak mematuhi perintah raja untuk memangsaku wahai singa?. Singa tersebut kemudian menjawab “Mana mungkin aku menyakiti orang yang telah berjasa menolong dan menyelamatkan ku”.
Karangan Cerita (10)
Karangan Cerita (10)
Dahulu hutan kami sangat lestari dan indah. Di sanalah terdapat ribuan jenis tumbuhan dan binatang yang hidup saling berdampingan. Selain menjadi tempat tinggal para tumbuhan dan binatang, hutan juga merupakan sumber utama bagi kehidupan manusia. Hutanlah yang menyediakan sumber makanan bagi kita. Binatang dan tumbuhan yang ada di sana menjadi sumber makanan yang tidak terbatas bagi kita.
Selain menyediakan sumber makanan, hutan juga menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian orang. Kayu dan sebagian tumbuhan yang ada di dalam hutan bisa dimanfaatkan oleh mereka untuk dijual. Bahkan hutan berperan penting sebagai pemasok udara bersih bagi manusia, sehingga hutan juga disebut dengan paru-paru dunia yang memberikan oksigen kepada kita semua untuk bernafas.
Namun, kini hutan telah kehilangan kelestariannya. Mereka telah hancur dan bahkan telah hilang dengan beralih fungsi menjadi perkebunan dan pemukiman penduduk. Hal ini disebabkan oleh manusia-manusia yang rakus. Mereka dengan membabi buta mengeksploitasi hutan, menebang pohon dan memburu binatang-binatang demi kepentingan pribadi mereka dan demi memenuhi kantong-kantong mereka.
Akibat dari perbuatan keji itu, saat ini hutan telah kehilangan fungsinya. Hutan sudah tidak lagi menjadi tempat hidup para tumbuhan dan binatang. Bahkan sebagian dari mereka ikut punah akibat kehilangan tempat tinggalnya. Hutan juga kini tidak bisa lagi menyediakan sumber makanan bagi manusia. Habislah sudah sumber daya di dalam hutan sehingga kini manusia tidak bisa lagi memnfaatkannya.
Sumber-sumber air pun kini ikut menghilang karena rusaknya pohon-pohon di dalam hutan, sehingga menciptakan kekeringan dimana-mana. Bahkan kini hutan sudah bukan lagi menjadi paru-paru dunia untuk menyediakan udara bersih bagi kita karena habis sudah pohon-pohon di dalam hutan.
Kini hutan bahkan seakan marah kepada manusia. Mereka tidak mau lagi bersahabat. Akibatnya terjadilah bencana-bencana alam yang mengerikan seperti tanah longsor dan kekeringan dimana-mana. Tidakkah kita mendengar jeritan mereka, tidakah kita peduli dengan mereka. Marilah kita bersahabat kembali dengan mereka demi keberlangsungan hidup kita dan anak cucu kita kelak.
Selain menyediakan sumber makanan, hutan juga menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian orang. Kayu dan sebagian tumbuhan yang ada di dalam hutan bisa dimanfaatkan oleh mereka untuk dijual. Bahkan hutan berperan penting sebagai pemasok udara bersih bagi manusia, sehingga hutan juga disebut dengan paru-paru dunia yang memberikan oksigen kepada kita semua untuk bernafas.
Namun, kini hutan telah kehilangan kelestariannya. Mereka telah hancur dan bahkan telah hilang dengan beralih fungsi menjadi perkebunan dan pemukiman penduduk. Hal ini disebabkan oleh manusia-manusia yang rakus. Mereka dengan membabi buta mengeksploitasi hutan, menebang pohon dan memburu binatang-binatang demi kepentingan pribadi mereka dan demi memenuhi kantong-kantong mereka.
Akibat dari perbuatan keji itu, saat ini hutan telah kehilangan fungsinya. Hutan sudah tidak lagi menjadi tempat hidup para tumbuhan dan binatang. Bahkan sebagian dari mereka ikut punah akibat kehilangan tempat tinggalnya. Hutan juga kini tidak bisa lagi menyediakan sumber makanan bagi manusia. Habislah sudah sumber daya di dalam hutan sehingga kini manusia tidak bisa lagi memnfaatkannya.
Sumber-sumber air pun kini ikut menghilang karena rusaknya pohon-pohon di dalam hutan, sehingga menciptakan kekeringan dimana-mana. Bahkan kini hutan sudah bukan lagi menjadi paru-paru dunia untuk menyediakan udara bersih bagi kita karena habis sudah pohon-pohon di dalam hutan.
Kini hutan bahkan seakan marah kepada manusia. Mereka tidak mau lagi bersahabat. Akibatnya terjadilah bencana-bencana alam yang mengerikan seperti tanah longsor dan kekeringan dimana-mana. Tidakkah kita mendengar jeritan mereka, tidakah kita peduli dengan mereka. Marilah kita bersahabat kembali dengan mereka demi keberlangsungan hidup kita dan anak cucu kita kelak.
Karangan Cerita (11)
Bersih, jernih dan asri itulah sungaiku dahulu. Disanalah tempatku bermain bersama tema-teman. Kami sangat senang berenang, memancing, dan mencari ikan bersama-sama. Sungaiku juga menjadi tempat tinggal puluhan jenis ikan yang berenag-renang dengan bebasnya. Jernihnya sungaiku dahulu bahkan sering kami gunakan untuk minum. Setiap sore, para ibu dan gadis desa selalu mandi dan mencuci di sana. Tak hanya itu, sungaiku juga sering digunakan sebagai irigasi untuk mengairi ribuan hektare petani.
Namun, kini sungaiku telah tercemar. Tercemar oleh tumpahan limbah pabrik yang sangat mematikan. Limbah-limbah tersebut telah merusak sungai dan meracuni semua kehidupan di sana. Jernih dan bersihnya sungai kini telah berganti menjadi keruh dan dipenuhi oleh busa-busa limbah beracun. Tak ada lagi, tempat bermain bagi kami, taka ada lagi ikan-ikan di sungai kami. Semuanya telah hilang tergantikan dengan bau yang tidak sedap.
Marilah kita selamatkan sungai kita dengan menghentikan limbah-limbah yang masuk ke dalam sungai. Sehingga sungai kita yang dahulu jernih dan bersiah kembali lagi.
Marilah kita selamatkan sungai kita dengan menghentikan limbah-limbah yang masuk ke dalam sungai. Sehingga sungai kita yang dahulu jernih dan bersiah kembali lagi.
Karangan Cerita (12)
Kebersihan adalah suatu keadaan dimana tak ada sampah yang berserakan di mana-mana. Kebersihan sangatlah penting untuk dilakukan karena dengan kebersiahanlah yang akan menjaga kita dari ancaman-ancaman penyakit yang datang. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan kebersihan.
Yang pertama adalah menjaga kebersihn diri sendiri. Menjaga kebersihan diri sendiri seperti mandi 2 kali sehari, memotong kuku dan menggosok gigi akan membuat tubuh kita selalu bersih. Sehingga jika kebersihan telaah didapat, maka tubuh kita akan menjadi sehat dan tidak akan mudah terserang oleh penyakit.
Selain menjaga kebersihan tubuh, menjaga kebersihaan lingkungan tempat tinggal juga sangat penting untuk dilakukan. Membersihkan seisi rumah dan lingkungan sekitar akan membuat lingkungan menjadi bersih dan tidak menjadi sarang bagi penyakit untuk tumbuh dan berkembang. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan kita seperti, mengubur barang-barang bekas, menguras bak mandi dan menutup semua sumber air sehingga nyamuk tidak bisa berkembang biak di sana.
Demikianlah cara hidup bersih dan manfaat yang bisa kita dapatkan. Oleh karena itu, marilah kita semua menjaga kebersihan baik kebersihan diri maupun kebersihan lingkungan agar kita menjadi sehat dan terhindar dari penyakit yang mengancam.
Yang pertama adalah menjaga kebersihn diri sendiri. Menjaga kebersihan diri sendiri seperti mandi 2 kali sehari, memotong kuku dan menggosok gigi akan membuat tubuh kita selalu bersih. Sehingga jika kebersihan telaah didapat, maka tubuh kita akan menjadi sehat dan tidak akan mudah terserang oleh penyakit.
Selain menjaga kebersihan tubuh, menjaga kebersihaan lingkungan tempat tinggal juga sangat penting untuk dilakukan. Membersihkan seisi rumah dan lingkungan sekitar akan membuat lingkungan menjadi bersih dan tidak menjadi sarang bagi penyakit untuk tumbuh dan berkembang. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan kita seperti, mengubur barang-barang bekas, menguras bak mandi dan menutup semua sumber air sehingga nyamuk tidak bisa berkembang biak di sana.
Demikianlah cara hidup bersih dan manfaat yang bisa kita dapatkan. Oleh karena itu, marilah kita semua menjaga kebersihan baik kebersihan diri maupun kebersihan lingkungan agar kita menjadi sehat dan terhindar dari penyakit yang mengancam.